Lokasi pembibitan di desa Karang Tanjung RT.1 RW. I kecamatan Candi kabupaten Sidoarjo- Jatim
Contact Persons :
Jarot ( 083831295696 / 03172800379 )
Rofiq ( 085334566565 / 03171633310 )
Gaharu berasal dari bahasa sansekerta yaitu “Aguru” yang berarti kayu berat atau (tenggelam) sebagai produk damar atau resin dengan aroma keharuman yang khas. Semula gaharu dimanfaatkan oleh masyarakat hindu di wilayah Assam, India. Dalam perdagangan, gaharu dikenal sebagai produk Agarwood, Aloewood, atau Eaglewood.
Kebutuhan ekspor gaharu semakin meningkat hingga tahun 2000. Hingga akhir tahun 2002 produksi semakin menurun dan hingga mencapai rata-rata sekitar 45 ton per tahun. Diduga hal tersebut disebabkan karena intensitas pemungutan di alam yang relatif tinggi tanpa adanya upaya pelestarian. Agar kesinambungan produksi gaharu tetap terjaga dan tidak tergantung pada alam maka perlu adanya pembudidayaan.
Pemanfaatan gaharu dalam bentuk kayu bulat, cacahan, bubuk, atau fosil kayu yang sudah terkubur. Gaharu mengandung resin atau damar wangi yang mengeluarkan aroma keharuman yang khas. Aroma tersebut sangat disukai masyarakat timur tengah, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Yaman, Oman, daratan China, Korea dan Jepang sehingga dibutuhkan sebagai bahan baku industri parfum, kosmetika, dupa, dan pengawet berbagai jenis aksesoris.
Seiring dengan perkembangan teknologi, gaharu bukan hanya sebagai bahan industri wewangian tetapi secara medis dapat dimanfaatkan sebagai obat. Beberapa negara seperti Singapura, China, Korea, Jepang, dan AS mengembnangkan gaharu sebagai obat-obatan seperti penghilang stress, gangguan ginjal, sakit perut, asma, hepatitis, sirosis, pembengkakan liver dan limfa, antibiotic untuk TBC, reumatik, kanker, malaria, serta radang lambung. Asosiasi Eksportir Gaharu Indonesia (ASGARIN) mengatakan bahwa negara-negara eropa dan india sudah memanfaatkan gaharu untuk pengobatan tumor dan kanker.
PENANAMAN
Gaharu dapat ditanam pada ketinggian 0 – 1500 dpl. Kelembaban 80 % curah hujan 1200 – 1600 mm per tahun dan adaptif diberbagai tipe tanah (PH : 4.0 – 6,0). Penanaman dapat dilakukan secara monokultur (sejenis) dan polikultur (campuran). Jarak tanam 2 x 2 m, 2 x 3 m, 3 x 3 m. Penanaman polikultur dapat ditanam disela-sela tanaman lainnya seperti sengon, jabon, jati, coklat, karet, kopi, dll
.
Langkah yang diperlukan untuk penanaman gaharu adalah penyiapan lahan, pemasangan ajir, pembuatan lubang tanam, pemberian pupuk, dan penanaman bibit. Lubang tanam dibuat dengan ukuran diameter 40 cm dan kedalaman 40 cm. Pemberian pupuk sebaiknya menggunakan pupuk kandang.
INOKULASI
ANALISA BIAYA INVESTASI MENANAM GAHARU
Berikut ini akan diperlihatkan perhitungan biaya penanaman gaharu mulai dari pengadaan bibit sampai dengan pemanenan untuk luas lahan 400 m2 dengan jarak tanam 2m x 2m sehingga dibutuhkan 100 batang bibit gaharu.
Perhitungan Biaya Pengeluaran :
- Pembelian bibit 100 btg x Rp. 20.000,- : Rp. 2.000.000,-
- Penanaman 100 btg x Rp. 5.000,- : Rp. 500.000,-
- Biaya perawatan (pupuk, obat-obatan ) 100 btg x Rp. 50.000,- : Rp. 5.000.000,-
- Inokulasi 100 btg x Rp. 100.000,- : Rp. 10.000.000,-
Jumlah biaya pengeluaran Rp. 17.500.000,-
Perhitungan hasil panen dihitung dengan kisaran angka terendah :
- Penjualan Gubal
100 btg x 0,5 kg x Rp. 5.000.000,- : Rp. 250.000.000,-
- Penjualan Kemedangan
100 btg x 2 kg x Rp. 1.000.000,- : Rp. 200.000.000,-
Jumlah hasil panen : Rp. 450.000.000,-
Jumlah keuntungan Rp. 450.000.000, - Rp. 17.500.000,- = Rp. 432.500.000,-
Jadi keuntungan menanam gaharu 100 btg untuk luas lahan 400 m2 adalah Rp.433.000.000,- Ini dihitung dengan perkiraan angka terendah maka apabila dihitung dengan melebihi perkiraan angka terendah maka hasilnyapun akan menjadi lebih tinggi.
MARI MENANAM GAHARU UNTUK INVESTASI MASA DEPAN
MENANAM GAHARU = MENIMBUN HARTA KARUN DI KEBUN