Sabtu, 28 Juli 2012

     GAHARU KARANG TANJUNG. Menjual bibit gaharu jenis Gyrinops versteegii  dengan ukuran yang layak tanam yaitu  tinggi bibit sekitar 30 cm secara partai atau eceran. Kami juga melayani jasa penanaman bibit gaharu di lapangan, perawatan setelah penanaman dan inokulasi / penyuntikan pohon gaharu.
     Lokasi pembibitan di desa Karang Tanjung RT.1  RW. I kecamatan Candi kabupaten Sidoarjo Jawa Timur.
Contact Persons :
Jarot            (  083831295696 /  03172800379 )
Rofiq           (  085334566565 /  03171633310 )

Penyebaran pohon gaharu di Indonesia


     Gaharu berasal dari bahasa sansekerta yaitu “Aguru” yang berarti kayu berat atau (tenggelam) sebagai produk damar atau resin dengan aroma keharuman yang khas. Semula gaharu dimanfaatkan oleh masyarakat hindu di wilayah Assam, India. Dalam perdagangan, gaharu dikenal sebagai produk Agarwood, Aloewood, atau Eaglewood.
     Kebutuhan ekspor gaharu semakin meningkat hingga tahun 2000. Hingga akhir tahun 2002 produksi semakin menurun dan hingga mencapai rata-rata sekitar 45 ton per tahun. Diduga hal tersebut disebabkan karena intensitas pemungutan di alam yang relatif tinggi tanpa adanya upaya pelestarian. Agar kesinambungan produksi gaharu tetap terjaga dan tidak tergantung pada alam maka perlu adanya pembudidayaan.
Searah jarum jam : Periset gaharu Prof. Robert A Blanchette memegang potongan batang pohon gaharu berisi gubal kecokelatan di Vietnam, Sebelum diinokulasi, gubal di bagian xylem setelah diinokulasi 17 bulan


 

 
     Sejak tahun 2000 kuota permintaan pasar mencapai 300 ton per tahun. Namun hingga tahun 2002 baru terpenuhi sekitar 10 – 20 %. Adanya perkembangan teknologi industri serta perkembangan nilai guna gaharu yang semakin luas maka produksi dapat dikembangkan melalui budidaya menanam gaharu agar pendapatan masyarakat dan devisa negara semakin meningkat. Pembudidayaan dan pengembangan gaharu berkualitas tinggi memang sangat memungkinkan saat ini karena teknologi produksi sudah diketahui dari hasil temuan masyarakat pemungut gaharu, hasil penelitian, dan hasil uji coba di lapangan.

Serpihan kayu gaharu






  
     Pemanfaatan gaharu dalam bentuk kayu bulat, cacahan, bubuk, atau fosil kayu yang sudah terkubur. Gaharu mengandung resin atau damar wangi yang mengeluarkan aroma keharuman yang khas. Aroma tersebut sangat
disukai masyarakat timur tengah, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Yaman, Oman, daratan China, Korea dan Jepang sehingga dibutuhkan sebagai bahan baku industri parfum, kosmetika, dupa, dan pengawet berbagai jenis aksesoris.
Aksesoris kayu gaharu
Aksesoris kayu gaharu
     Seiring dengan perkembangan teknologi, gaharu bukan hanya sebagai bahan industri wewangian tetapi secara medis dapat dimanfaatkan sebagai obat. Beberapa negara seperti Singapura, China, Korea, Jepang, dan AS mengembnangkan gaharu sebagai obat-obatan seperti penghilang stress, gangguan ginjal, sakit perut, asma, hepatitis, sirosis, pembengkakan liver dan limfa, antibiotic untuk TBC, reumatik, kanker, malaria, serta radang lambung. Asosiasi Eksportir Gaharu Indonesia (ASGARIN) mengatakan bahwa negara-negara eropa dan india sudah memanfaatkan gaharu untuk pengobatan tumor dan kanker. Di Papua gaharu dimanfaatkan secara tradisional untuk pengobatan. Daun, kulit, akar, digunakan sebagai pengobatan malaria. Sementara air sulingan (limbah dari proses destilasi gaharu untuk menghasilkan minyak atsiri) sangat bermanfaat untuk merawat wajah dan kulit.
Penyulingan gaharu






Alat-alat penyulingan



BUDI DAYA
     Gaharu dapat ditanam pada ketinggian 0 – 1500 meter dpl. Kelembaban 80 % curah hujan 1200 – 1600 mm per tahun dan adaptif di berbagai tipe tanah (PH : 4,0 – 6,0). Penanamn gaharu dapat dilakukan dengan pola monokultur (sejenis) dan polikultur (campuran).  Penanaman  pola monokultur dilakukan dalam lahan kosong dengan jarak tanam 2 x 2 m, 2 x 3 m, dan 3 x 3 m. Sedangkan penanaman polikultur dapat dilakukan dengan jenis tanaman lainnya seperti coklat, karet, kopi, sengon, jati, dll.
Tanaman gaharu umur 1 tahun 6 bulan

Bibit Gyrinops vesteegii



Tanaman gaharu


Pohon gaharu

     Gaharu dapat tumbuh baik pada tanah liat (misalnya podsolik merah kuning), tanah lempung berpasir dengan drainase sedang sampai baik. Tipe iklim A – B dengan kelembaban sekitar  80 %. Suhu udara antara 22 – 28 derajat celcius. Perlu dihindari kondisi lahan yang tergenang secara permanen, tanah rawa, tanah dangkal dengan kedalaman kurang dari 50 cm, pasir kuarsa, tanah dengan PH kurang dari 4,0. Waktu penanaman sebaiknya dilakukan pada waktu musim hujan dengan maksud agar bibit yang ditanam tidak mengalami kekeringan.

Biji Gyrinops versteegii





NOKULASI
Proses inokulasi



     Pohon gaharu pada umur 7 tahun atau diameter pohon kurang lebih 12 cm dapat dilakukan rekayasa produksi melalui proses penyuntikan atau inokulai dengan cara memasukkan cairan cendawan ke dalam kayu. Cendawan itu adalah Fusarium sp atau mikroba lainnya seperti Diploda sp, Phytium

sp, Aspergillus sp, Lasiodiploda sp, Libertela sp, Trichoderma sp, Scytalidium sp, dan Thielaviopsis sp. Fusarium sp yang di inokulkasi ke jaringan pohon itu sebetulnya kuman penyebab penyakit dimana pohon gaharu melawan dengan memproduksi resin bernama fitoaleksin supaya kuman tidak menyebar ke jaringan pohon. Seiring waktu resin itu mengeras di sudut-sudut pembuluh xylem dan floem organ pohon yang mendistribusikan makanan yang berwarna kecoklatan serta harum bila dibakar. Untuk membuat lubang digunakan bor  dengan mata bor berdiameter 3 mm dengan kedalaman 1/3 diameter pohon. Jarak antar lubang 10 cm.
  
Cara pemberian lubang injeksi Inokulasi

     Gubal terbentuk karena rangsangan dari mikroba yang masuk ke dalam jaringan pohon gaharu. Mikroba berupa cairan cendawan atau bakteri masuk ke dalam luka tersebut. Proses pelukaan bias disebabkan karena pengeboran, penggergajian, dibacok, dipaku, cabang patah atau kulit terkelupas.








  Proses inokulasi dengan pembuatan
  lubang injeksi dengan cara dibor                         dan  memasukkan cairan Fusarium sp                                             

















Gubal yang terbentuk setelah 1 tahun
inokulasi



NILAI EKONOMIS GAHARU
     Penanaman gaharu terus meluas apalagi harga jual terus melambung. Jika pada tahun 2001 gaharu super per kg  Rp. 4 jt – Rp. 5 jt, tahun 2009 Rp. 10 jt – Rp. 15 jt. Demikian pula harga gubal kelas AB yang cuma Rp. 2 jt – Rp. 3 jt tahun 2009 Rp. 4 jt – Rp. 5 jt per kg. Di Thailand harga gaharu kualitas tertinggi sekitar 2.000 US dolar per kg dan harga minyak suling gaharu mencapai sekitar 15.000 US dolar per kg atau setara dengan Rp. 138 jt. Harga gaharu tersebut bervariasi berdasarkan kualitasnya, tetapi belum ada yang berstandar internasional untuk  produk gaharu yang sebagian besar didasarkan pada kosentrasi minyak / resin gaharu.
     Secara umum gaharu dibagi kedalam 3 kelas besar yaitu Gubal, Kemedangan dan Abu. Gubal merupakan kayu gaharu yang berwarna hitam atau kehitam-hitaman berseling coklat. Gubal diperoleh dari pohon atau bagian pohon penghasil gaharu yang memiliki kandungan damar wangi yang beraroma kuat. Sedangkan Kemedangan adalah kayu gaharu yang kandungan damar wangi dan aromanya yang lemah ditandai oleh warna yang kecoklat-coklatan sampai putih keabu-abuan, serat kasar, dan kayu lunak. Sedangkan abu gaharu merupakan  serbuk kayu hasil pengerukan atau sisa penghancuran kayu gaharu. Dalam perdagangan ketiga kelas itu dikelompokkan lagi dalam kelas-kelas yang lebih kecil.


Bidang permukaan gaharu super

Gaharu super


Gaharu kemedangan
                                                                   Abu gaharu



     Gaharu dipasaran dikelompokkan kedalam beberapa kelas kualitas dengan harga masing-masing sebagai berikut :

1.    Gaharu Double Super
Harga : Rp. 30 juta – Rp. 40 juta per kilogram
2.    Gaharu Super Tanggung
Harga : Rp. 15 juta – Rp. 30 juta per kilogram
3.    Gaharu AB
Harga : Rp. 5 juta – Rp. 15 juta per kikogram
4.    Kemedangan
Harga : Rp. 1 juta – Rp. 5 juta per kilogram
5.    Gaharu Teri
Harga : Rp. 500 ribu – Rp. 1 juta per Kilogram

ISA BIAYA INVESTASI MENANAM GAHARU
     Berikut ini akan diperlihatkan perhitungan biaya penanaman gaharu mulai dari pengadaan bibit sampai dengan pemanenan untuk luas lahan 400 m2 dengan jarak tanam 2m x 2m sehingga dibutuhkan 100 batang bibit gaharu.

Perhitungan Biaya Pengeluaran :
1.    Pembelian bibit 100 btg x Rp. 20.000,-                                                      :       Rp.   2.000.000,-
2.    Penanaman 100 btg x Rp. 5.000,-                                                               :       Rp.      500.000,-
3.    Biaya perawatan (pupuk, obat-obatan ) 100 btg x Rp. 50.000,-            :       Rp.   5.000.000,-
4.    Inokulasi 100 btg x Rp. 100.000,-                                                                :       Rp. 10.000.000,-
Jumlah biaya pengeluaran                                                                                       Rp. 17.500.000,-

Perhitungan hasil panen dihitung dengan kisaran angka terendah :
1.    Penjualan Gubal
     100 btg x 0,5 kg x Rp. 5.000.000,-                                                                :      Rp. 250.000.000,-
2.    Penjualan Kemedangan
      100 btg x 2 kg x Rp. 1.000.000,-                                                                  :      Rp. 200.000.000,-
Jumlah hasil panen                                                                                             :      Rp. 450.000.000,-

Jumlah keuntungan                 Rp. 450.000.000,- - Rp. 17.500.000,-     =         Rp. 432.500.000,-


     Jadi keuntungan menanam gaharu 100 btg untuk luas lahan 400 m2 adalah Rp. 433.000.000,- Ini dihitung dengan kisaran angka terendah maka akan didapatkan perkiraan  hasil terendah dan apabila didapatkan hasil melebihi angka tersebut maka hasilnyapun akan melebihi perhitungan angka tersebut.


MARI MENANAM GAHARU UNTUK INVESTASI MASA DEPAN
MENANAM GAHARU = MENIMBUN HARTA KARUN DI KEBUN

Tidak ada komentar:

Posting Komentar